Postingan

Organik

Entah apa yang tertanam dalam benak. Sepiku kian datang tak kenal waktu. Segala yang terjadi perlahan kupahami, satu per satu, dalam hening. Di ruang ini, hanya ada aku yang terbungkam. Terdengar rintihan air yang mengalir dan bisikan angin yang menyentuh kulitku. "Aku hanya bingung. Kemana lagi aku harus melangkah, menggembara dalam hidup ini? Apa yang harus kulakukan untuk hidupku?" gumamku. Setiap pertanyaan itu membawa aku tersesat, hilang di antara ruang dan waktu. Entah sampai kapan pikiranku akan berkelana, melayang jauh dalam sanubariku. Entah apa yang tertanam dalam benak. Kembali ku mencari apa arti hidup ini. Merasakan cinta dari sepotong kue kismis yang tertaburi biji wijen dan kurasakan keju di dalamnya. Rasaku kian pergi dan mungkin enggan kembali. Setidaknya aku kembali merasakan cinta pagi ini, walaupun akupun tak tahu rasanya dicintai.

Perihal ikhlas

Rasanya segala sesuatu yang kita tidak dapat realisasikan harus berakhir dalam kata ikhlas. Saat kamu merasa bahwa dunia akan selalu berlaku baik padamu, ingatlah itu hanya sebuah delusi yang akan membawa kepada buaian ekspektasi.  Kamu harus sadar bahwa dunia ini tidak berputar hanya untukmu. Tentu kamu bukanlah titik porosnya. Akan selalu ada masa dimana kamu sadar bahwa kita hanyalah sebuah serpihan kecil dari dunia ini.  Entah kapan rasa itu akan hilang, namun selalu ada titik balik dimana manusia memiliki cara tersendiri untuk tetap bertahan hidup. Ada yang pernah bilang padaku, bahwa semesta selalu punya cara untuk memberikan setiap plot twist disetiap halaman kehidupan kita. Memang tak akan ada yang tau bagaimana hidup kita esok, tapi ingatlah selalu bahwa kita harus tetap berdiri teguh walaupun dunia selalu berlaku tidak adil.  Bagaimanapun juga akan selalu ada fase dimana kita terjatuh, namun memilih untuk bangkit tetap menjadi sebuah pilihan yang harus kita pili...

Kira

Untuk kamu, Terima kasih telah mengajarkanku kembali untuk jatuh hati. Membuat diri ini yakin bahwa benih patah hati memang tak pernah jauh dari kata ekspektasi tinggi.  Entah apa maksudmu memberikan kita ruang untuk bersama. Namun setiap perjalan yang telah kita lalui, akhirnya membuatku tersadar bahwa setiap perasaan yang telah kita ukir hanya sekedar singgah, bukan untuk menetap, apalagi menjadikanku rumah. Ku kira kita akan berada di jalur yang sama kali ini, berbincang dan mengukir kisah kita sendiri. Ku kira dari sekian banyak jiwa di dunia ini, aku akan berhenti di kamu. Aku yakin kaupun begitu, tapi saat aku sudah mengungkapkan semua isi kupu-kupu yang keluar dalam hatiku, hal itu tidak menjamin bahwa rasaku sama dengan rasamu. Seketika semuanya telah berakhir dan ini adalah ujung ceritanya. Jujur tau begini, jika bisa memilih untuk tak bertemu denganmu itu yang kupilih. Jika bisa ku hindari garis interaksi itu yang kupilih. Akhir kata, terima kasih telah membuat manusia...

Diam

Hari ini aku kembali meratapi kisah hidupku. Betapa banyak hal yang sudah orang lain lakukan dalam hidupnya. Betapa banyak pencapaian yang mereka dapatkan, namun tidak denganku.  Orang lain selalu berkata padaku bahawa ada baiknya jangan membandingkan hidupmu dengan orang lain. Namun nyatanya hal itu sudah merasuk dalam jiwaku karena setiap penyesalan yang selalu kuratapi selalu hadir dan menghantui isi pikiranku.  Mereka bilang ini pilihanku, kamu harus bertanggung jawab akan hal itu!  Aku takut, aku sendirian namun hadir-Mu selalu datang menghampiriku dan selalu siap menemaniku. Kembaliku akan ruang dan waktu. Dikemudian, aku merasa kesunyian yang tak berujung. Mulai diri ini berlari, menghindari setiap pertikaian yang melanglang buana diotak kecil ini. Pelarian itu ternyata sia-sia sebab aku selalu kembali pada titik itu.  Aku harap diri ini sadar untuk tetap menghandapi dan tidak kabur lagi. 

Larung

Kemarin, aku mendapat panggilan darimu. Tak ku angkat sebab hatiku sedang gaduh perihal test yang akan ku hadapi hari itu. Ku kirim pesan padamu dan meminta maaf akan hal itu.  Seketika ku dapati kabar, bahwa kau sudah tiada. Seketika waktu terhenti dan dadaku mulai sesak. Namun, hatiku masih menyangkal akan semua yang terjadi.  Seketika kudapati diriku terpaku, melihat nisan yang bertuliskan namamu, aku sadar kita sudah tidak bisa berbincang dan bercanda seperti dulu.  Aku pulang dan ternyata kamu sudah tidak bersamaku.  

Pilu Membiru

Terima kasih telah mengajarkanku apa artinya membiru. Memberikkan sebuah harapan yang masih terjalin, namun tak pernah sekalipun ingin bercermin.  Ingin rasanya ku masuk kembali kedalamnya, menyelami setiap kata-perkata yang kau utarakan. Namun apa daya, pikiran yang memaksaku untuk tetap sadar bahwa tumbuh dan dewasa adalah bagian dari hidup yang harus kita lewati. Akhir kata, aku tersadar bahwa terkadang segala hal yang sering kali dibiarkan, mengajarkan bahwa kita terlalu sibuk dengan ego, rasa penat, lelah, masalah-segala hal yang terlibat, itu karena ketidak-tahuan: keterbatasan kita untuk memandang takdir dan diri kita sendiri.  ---bisakah kita terus mengobati? walau membiru. 

Penulis Skenario Terbaik

Dear kamu, Hari ini kamu sedang ditampar oleh kenyataan. Kenyataan yang memaksa dirimu untuk memilih apakah harus terus berjuang ataupun berhenti. Setiap orang memiliki bebannya tersendiri memang, namun kamu selalu merasa bahwa beban ini sungguh memuakkan. Ingin rasanya menyerah, tapi kamu sadar bahwa kamu memiliki banyak hal yang patut untuk diperjuangkan. Waktu itu tepat hari minggu. Hari dimana biasanya kamu mendengarkan banyak hal tentang Tuhan dan bertemu dengan teman-teman. Kak Sheni yang senang bercerita bahwa saat dia sedang bekerja menjadi seorang dokter, banyak pasien yang dia tolong karena Tuhan dan dari hal itu pula, banyak orang lain dapat mengenal siapa Tuhan itu sebenarnya. Dari situ kamu selalu ingin menjadi sepertinya sehingga dapat menginspirasi banyak orang. Ingat tidak saat kamu berumur 5 tahun orang bertanya padamu "Saat dewasa nanti cita-cita kamu mau jadi apa?" dengan bangganya kamu menjawab "Jadi dokter". Yap, mimpimu untuk memakai jas putih ...